Pesona Keindahan Air Terjun Bekor, Nangahale

0
74
Pesona Keindahan Air Terjun Bekor, Nangahale – Perahu melaju pelan membelah perairan Pangabatang menuju ke Tanjung Darat. Inilah daratan terdekat yang paling mungkin kucapai dengan perahu nelayan kecil ibarat ini. Pak Sartono sengaja memutar perahunya supaya memudahkan saya mengambil gambar kondisi perairan yang bening dan dipenuhi koral dan ikan warna-warni. Tak berapa lama perahu kami memasuki daerah bakau dan mendarat di sebuah cerukan dalam di antara bakau. Saat di laut saya sendiri tidak mampu mengenali dimana kita mampu mendarat alasannya sepanjang pantai yang tampak yakni bakau saja. Selepas di darat, saya memutuskan naik ojek ke arah Likong.
Air terjunnya mengalir kecil di trend panas
Sesuai dengan informasi yang saya terima dari salah seorang kerabat pak Sartono yang sekarang bekerja di Dinas Pendidikan di daerah Nangahale terdapat satu jeram yang menurut mereka menarik. Mereka sendiri tidak tahu nama jeram itu namun mereka menyebut nama pak Blasius yang biasa menjadi pengantar tamu jikalau ingin ke jeram itu. Dan sekarang nama pak Blasius di dusun Likong menjadi arah tujuanku.
Sekitar sepuluh jam di atas motor melintasi jalur jalan yang lebih banyak berupa tanah, jadinya ojek mampu mencapai jalan raya. Sepuluh menit berikutnya ojek yang saya tumpangin hingga ke daerah Likong. Ingat ya bacangnya Likong bukan Lekong, beda banget gitchuu… *keselek biji duren*.. Berbekal informasi nama Blasius, saya diantar seorang anak kecil masuk ke gang kecil hingga ke sebuah rumah sederhana. Saat menyebutkan namaku, pak Blasius masih tampak kebingungan namun menjadi terang dikala saya menyebutkan nama pak Aswadi yang pernah bekerja menjadi guru di sini. Sayangnya hari Minggu ini dia sedang ada keperluan keluarga sehingga tidak mungkin mengantarku. Saat saya minta dia menunjukkan arahnya saja, dia katakan kalau jalurnya gres saja dibuka dan tidak mudah untuk dilalui. Dia takut saya tersesat alasannya belum ada jalan ke sana, gres saja ada jalan dibuka tapi sebatas untuk pekerjaan pembangunan reservoir oleh PDAM yang akan menggunakan jeram di situ. Untungnya pak Blasius menyampaikan biar anaknya Rikardus yang akan membantu mengantarku ke air terjun. Aku setuju alasannya anaknya juga yang membantu dikala ada obeservasi lapangan oleh sebuah tim beberapa kali. Aku sempatkan membeli pisang molen goreng dan minuman alasannya memang saya belum makan dari pagi selain kue-kue kering dikala di Pangabatang.
Trap-trap air terjunnya cantik apalagi jikalau pas airnya banyak
Sambil berjalan, saya mendengarkan dongeng Rikardus perihal awal mula jeram ini ditemukan dan kondisi asli ke lokasi itu. Katanya, jeram ini ditemukan oleh orang kampung Likong Gethe yang sedang gila. Dia lah yang memberitahu penduduk kalau ada jeram disana. Katanya pulau, orang ajaib itu jadinya sembuh. Mereka menamai jeram ini Bekor (ingat Bekor, jangan salah lagi mengeja Boker… beda bangeetttt). Rikardus sendiri beberapa kali menemani orang-orang yang melaksanakan survei ke jeram ini yang katanya mau dibuat sebagai sumber air bersih. Dia juga sering menemani rombongan tamu yang ingin ke air terjun. Dulu katanya hampir tiap ahad dia mampu bolak balik mengantar tamu ke air terjun, namun entah kenapa tahun ini belum ada lagi orang yang mau mengunjungi jeram ini.
Jalur sungai dengan tebing curam
Dari Likong, Rikardus memilih mengajakku mengunakan jalan potong melalui kebun jagung dan kelapa milik penduduk. Menurutnya jarak dari Likong Gethe (itu nama lengkap kampungnya) ke jeram Bekor sekitar 4,5 km. Entah apakah itu jarak betul atau kira-kira. Di sini kalau orang sudah mengatakan 1 km kadang-kadang kalau ditempuh 3 km juga belum hingga hahaha jadi jangan senang dulu kalau mendengar jaraknya bersahabat kecuali sudah mengalaminya sendiri.
Perjalanan sendiri ibarat yang saya duga tidak mulus alasannya harus melewati sungai. Artinya jikalau trend hujan, jeram ini sangat sulit dilalui. Di beberapa tempat saya melihat pipa-pipa yang terpasang di sepanjang pinggir sungai tapi masih belum terhubung semuanya. Pemasangan pipa ini juga menguntungkanku alasannya beberapa jalan jadi tidak terlalu menanjak. Menurut Rikardus, sebelum dibuat jalan ini, kondisi menuju jeram tergolong jauh lebih sulit. Bahkan ada beberapa titik yang kita harus melewati bukit sambil berjalan merambat alasannya tidak ada jalan hanya berupa bekas jalan yang kondisinya tanahnya miring. Tak terhitung berapa kali saya dan Rikardus melewati sungai. Untung pedoman airnya kecil jadi mudah kami lewati. Namun dari pedoman airnya saya justru curiga kalau jeram Bekor ini ibarat air terjunnya umumnya di NTT yang debitnya di waktu trend hujan dan trend kering sangat jauh.
Aliran jeram yang turun banyak di trend kemarau
Entah berapa jam saya berjalan saya sendiri sudah lupa, bahkan saya tak pernah menengok jam tanganku. Perjalanan yang harus menembus hutan ini melenakanku. Beberapa kali saya harus masuk ke dalam hutan yang katanya merupakan hutan yang hampir tidak pernah dijamah masyarakat. Jalan menuju jeram memang naik turun bukit, namun arahnya makin menanjak. Di kilometer terakhir kami tidak mampu lagi melewati sungai alasannya sungai lebih dipenuhi batu-batu besar yang akan sulit untuk dilewati. Untungnya jalan terakhir yang dulunya paling sulit berupa jalan miring dengan bergerak merayapi bukit sudah tidak ada menjadi jalan tanah yang gres dibuat. Tapi kondisi jalan ini hanya mampu dilalui dengan jalan kaki, jikalau dengan motor trail mungkin masih mampu walau juga tidak mungkin hingga ke jeram juga.
Sebenarnya sebelum hingga di jeram kami juga melewati sungai yang mengalir sumber air panas. Sumber air panas ini tidak besar hanya berupa 2 pipa bambu yang menancap di dinding. Air dari bambu ini mengalirkan air panas. Di titik kelokan terakhir juga ada tebing kerikil kering yang katanya juga kalau trend hujan bermetamorfosis air terjun. Artinya jikalau trend hujan banyak jeram di daerah ini walau saya gak membayangkan bagaimana mampu kesana jikalau trend hujan.
Rikardus duduk di bawah pohon yang tumbang
Pesona Keindahan Air Terjun Bekor, Nangahale – Dari pinggir sungai tak tampak jeram hanya terlihat trap-trap air mengalir alasannya air terjunnya sendiri terhalang oleh pepohonan. Setelah turun melewati sungai dan naik ke atas trap-trap air mengalirnya barulah tampak pemandangan jeram yang tingginya mungkin sekitar 30 meteran. Dari dinding kerikil kapur yang ada tampaknya jeram di sini pada waktu trend hujan cukup lebar, namun dikala ini hanya ada 2 titik jeram itu pun air terjunnya tidak deras sedangkan tiga dinding kerikil di sekitarnya sudah mengering.
Suasana sekitar jeram terasa sejuk apalagi pepohonan rindang disekelilingnya. Aku sempat mampir mandi disumber air panasnya. Sekitar jam 2 siang saya sudah kembali ke dusun Likong. Aku hanya berhenti sebentar di batas terakhir hutan untuk sejenak minum dan makan gorengan walaupun bahwasanya kaki sudah terasa kebal.
Dari Likong saya naik ojek dengan biaya 50rebu walaupun setelah hingga tukang ojeknya minta tambah untuk uang bensin alasannya setelah hingga kota gres sadar kalau ternyata jauh… hahaha ada-ada saja, mereka yang orang asli masak gak tau jarak dari Likong ke kota Maumere. Akhirnya saya tambah uang 7rebu alasannya cuma itu uang kecil yang tersisa di kantongku.
Sebenarnya pada waktu yang sama, teman-teman dari Mofers Photography juga sedang melaksanakan perjalanan ke jeram Murusobe yang jauh lebih besar debitnya dan lebih tinggi. Namun sayang saya memang ingin ke Pangabatang sehingga undangan ke Murusobe terlewatkan. Tak apalah, yang penting suatu ketika nanti saya juga mampu mampir ke Murusobe.
Rekomendasi :   Pantai Wisata Lombang-Lombang